Berita dan Artikel‎ > ‎Artikel‎ > ‎

Berbagi Implementasi dan Inovasi Good Urban Governance Dalam Menciptakan Solusi Permasalahan Perkotaan (sebuah catatan dari konferensi IFHP Singapore)

diposting pada tanggal 5 Agt 2014 01.19 oleh Web IAP Jabar   [ diperbarui5 Agt 2014 01.39 ]

Ditulis oleh : Meyriana Kesuma (PN-IAP), Mochamad Yusuf (IAP Jawa Timur), Maulita Dwasti (IAP Jawa Barat)

Jumat 30 Mei, International Federation for Housing and Planning (IFHP) menghelat konferensi kedua mereka tahun ini di Singapura dengan tema ‘Good Urban Governance in Integrated Planning: The Key to Success?’. Bukan tanpa alasan organisasi internasional tersebut memilih Singapura sebagai tempat dilangsungkannya konferensi ini. Singapura dianggap sebagai salah satu negara yang telah berhasil mengimplementasikan Integrated Planning dengan struktur tata kelola yang yang baik dalam mendukung proses perencanaannya. Tentu saja tidak hanya Singapura yang boleh berbangga dengan keberhasilan pembangunan yang telah dicapainya, berbagai pengalaman pembangunan dan project skala internasional dari berbagai negara dibagi dan didiskusikan dalam konferensi ini dengan harapan bisa memberi inspirasi kalangan praktisi perencanaan yang hadir dalam mengidentifikasi dan mengatasi permasalahan terkait tata kelola dalam perencanaan tata ruang.

Diawali dengan keynote speech dari CEO of Housing and Development Board Singapura, Cheong Koon Hean diceritakan bagaimana tata kelola yang baik telah berhasil membuat arah pembangunan Singapura menjadi lebih berkelanjutan. Diawali dengan dibuatnya masterplan dengan jangka waktu perencanaan 50 tahun, Singapura merencanakan pondasi arah pembangunan jangka panjang mereka. Sejalan dengan perencanaan tersebut, berbagai inovasi telah dilakukan Singapura dalam mengatasi keterbatasan-keterbatasan ditengah perkembangan negara tersebut, misalnya reklamasi untuk mengatasi kebutuhan lahan, implementasi Electronic Road Pricing (ERP) di beberapa ruas jalan utama, pembangunan deep tunnel untuk keperluan daur ulang air, dan fasilitas pembakaran sampah untuk mengatasi masalah persampahan.

Pembicara selanjutnya Herbert Dreiseitl (Director of the Liveable Cities Lab / Rambøll Founder) mengemukakan pentingnya mengintegrasikan Blue-Green Infrastructure bersama dengan Social Infrastructure. Herbert menekankan pentingnya analisis terintegrasi dalam manajemen kota yang mencakup sudut pandang fisik, sosial dan tata kelola. Prinsip dalam mengintegrasikan berbagai sudut pandang tersebut adalah pembangunan skala kecil namun memberikan dampak besar serta melibatkan aspek-aspek multifungsi. Lebih lanjut, beberapa ruang publik multifungsi dicontohkan sebagai bentuk implementasi analisis terintegrasi. Diantara contoh-contoh tersebut adalah bagaimana Bishan Park di Singapura yang memiliki banyak fungsi di dalamnya terbentuk dari Sungai Kalang yang sebelum 2010 memiliki fungsi utama sebagai sungai. Dengan sentuhan bioengineering sungai tersebut tidak lagi sekedar sungai, kini Bishan Park memiliki fungsi lain sebagai tempat bersosialisasi, rekreasi selain juga memiliki fungsi lingkungan. Rekayasa tersebut  merupakan inovasi yang dilakukan Singapura demi meningkatkan liveability dari tempat-tempat publik yang mereka miliki.

Pada giliran selanjutnya Sonia Kirby dari Griffith University membagi pengalamannya sebagai planner dalam
memberdayakan komunitas. Menurut Sonia keterlibatan komunitas dalam menghidupkan sebuah kawasan amatlah penting, di Brisbane hal tersebut meningkatkan kinerja tata kelola kawasan yang erat kaitannya dengan komunitas. Contoh mudah yang ia kemukakan adalah bagaimana membuat lebih banyak orang datang dan beraktivitas di kawasan CBD ataupun kawasan-kawasan lainnya. Lebih lanjut ia menambahkan bahwa
planner bisa mengambil peranan dalam memberdayakan komunitas, sehingga nilai ruang bertambah. Prinsip kerja planner yang menurutnya penting dalam memberdayakan komunitas antara lain Prohibit, Adapt, Embrace dan Promote.

Di sesi ke-2 Alfonso Martinez Cearra dari Bilbao Metropoli-30 memaparkan Revitalisasi Metropolitan Bilbao. Bilbao merupakan kota yang terkenal sebagai kota pelabuhan pada tahun 1980-an, lalu perlahan bertransformasi menjadi kota yang lebih maju dan bahkan mendapatkan penghargaan Lee Kuan Yew World City Prize pada tahun 2010. Dalam proses revitalisasinya Kota Bilbao amat mengandalkan pembiayaan pembangunan dengan skema public-private partnership. Revitalisasi Kota Bilbao menekankan pentingnya pembangunan meeting point, bersifat netral, inovatif dan berorientasi jangka panjang. Beberapa keberhasilan pembangunan dengan skema public-private partnership dalam upaya revitalisasi kota meliputi perluasan pelabuhan, penyediaan transportasi tram, pembangunan museum dan perluasan jaringan kereta metro. Hal yang menarik bagi anggota Metropoli-30 adalah munculnya nilai-nilai baru pada kawasan yang dikembangkan berkat adanya inovasi, profesionalisme, penciptaan identitas, peran komunitas dan keterbukaan. Berkat keberhasilan dalam merevitalisasi kawasan tersebut, Bilbao kini kian mantap dengan identitas “The City Where Dreams Come True!

Tak ketinggalan Bernardus Djonoputro, Ketua IAP Indonesia menyampaikan temuannya tentang Gap dalam perencanaan dan pengembangan kota di Indonesia. Berbagai tantangan terkait capaian penyediaan infrastruktur dan kondisi Indonesia yang rentan terhadap bencana dan perubahan iklim dikemukakan lengkap dengan kebutuhan capaian ideal sesuai kondisi Indonesia saat ini. Gap yang ditemukan sebisa mungkin diatasi dengan melibatkan semua pelaku pembangunan. Beberapa pelajaran yang dalam mengatasi Gap tersebut antara lain pelibatan komunitas dengan lebih intensif, mempererat hubungan kota dan wilayah satu dengan lainnya, kebijakan yang memberi dukungan dan insentif swasta untuk berperan serta dalam pembiayaan infrastruktur, desentralisasi penyediaan infrastruktur untuk memudahkan kontrol dan pembiayaan, model risk-sharing untuk sektor swasta yang lebih realistis dalam penyediaan infrasturktur, perlunya dukungan institusi dalam mendukung public-private partnership.

Di sesi terakhir Jan Gehl dari Gehl Architects menutup konferensi dengan paparan yang konklusif. Paparan dengan judul Cities for People mengemukakan bagaimana tuntutan zaman mengubah paradigma perencanaan mulai dari pandangan modernisme pada 1960 menjadi perencanaan dengan paradigma liveable city, sustainable city dan healthy city. Paradigma modernisme dicirikan dengan bangunan-bangunan yang besar, ruang publik yang luas namun hanya sedikit orang yang menikmati ruang publik tersebut. Gehl banyak memberikan sentuhan-sentuhannya pada ruang-ruang publik agar lebih dinikmati oleh masyarakat. Untuk mengubah ruang publik lebih humanis maka Gehl merumuskan 3 faktor utama dalam mendesain tempat-tempat publik, Protection, Comfort dan Enjoyment. Beberapa karya Gehl dalam mengubah ruang-ruang publik diantaranya adalah di Moscow, Rusia dan Melbourne, Australia.

Akhirnya dengan inovasi-inovasi dan praktek perencanaan dalam konferensi ini diharapkan dapat membangkitkan dan menularkan semangat para perencana di Indonesia bahwa banyak cara untuk mencapai pembangunan yang lebih baik. Adanya tantangan, tuntutan dan perubahan paradigma sebisa mungkin sudah mulai diadaptasi oleh para perencana wilayah dan kota di Indonesia, sehingga masyarakat dapat hidup dengan nyaman di dalamnya. Hal ini tentu dapat dicapai apabila pemerintah mendukung inovasi-inovasi dan meningkatkan kinerja tata kelola pembangunan.

Comments